Admin 04 Jun 2026 03:32
admin #umum

 

Kisah Sukses H. M. Saleh Dan Rendang Parapari Di Sumatera Barat

Pendahuluan

Oleh: Tim Redaksi Kuliner Indonesia

Rendang Parapari khas Sumatera Barat

Rendang Parapari, salah satu kuliner legendaris dari Sumatera Barat

Indonesia kaya akan kuliner lezat yang telah mendunia, salah satunya adalah rendang. Makanan asal Minangkabau, Sumatera Barat ini telah diakui sebagai makanan paling lezat di dunia menurut CNN International. Di balik setiap varian rendang yang lezat, terdapat kisah inspiratif dari para pengusaha kuliner yang gigih mempertahankan cita rasa otentik. Salah satu kisah sukses yang patut diteladani adalah perjalanan hidup H. M. Saleh dan usaha Rendang Parapari-nya di Sumatera Barat.

Awal Mula H. M. Saleh

H. Muhammad Saleh atau akrab disapa Haji Saleh lahir di Nagari Parapari, Padang Pariaman, Sumatera Barat pada tahun 1962. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang menjadikan kuliner tradisional sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Sejak kecil, Haji Saleh sudah terbiasa membantu ibunya memasak berbagai hidangan Minangkabau yang otentik, termasuk rendang.

Kelihaian Haji Saleh dalam memasak rendang tidaklah datang tiba-tiba. Ia menghabiskan masa remaja dengan belajar langsung dari para tetua di kampungnya tentang teknik memasak rendang yang benar, mulai dari pemilihan bahan, pengolahan rempah, hingga proses memasak yang tepat. Bagi masyarakat Minang, memasak rendang bukan sekadar aktivitas kuliner, melainkan salah satu bentuk pelestarian budaya yang harus dijaga.

Perjalanan Bisnis Rendang Parapari

1985

Haji Saleh mulai menjual rendang skala rumahan dengan bantuan istri tercintanya, Siti Aminah.

1992

Membuka kios pertama "Rendang Parapari" di pasar tradisional Padang Pariaman.

1998

Krisis moneter Indonesia, penjualan menurun namun Haji Saleh tetap mempertahankan kualitas produk.

2005

Membuka cabang pertama di Kota Padang dan mulai menerima pesanan antar kota.

2013

Ekspansi ke Jakarta dan membuka gerai di pusat perbelanjaan Ibukota.

2018

Memulai ekspor internasional ke beberapa negara Asia Tenggara dan Timur Tengah.

Pada tahun 1985, khi Haji Saleh masih berusia 23 tahun, ia memulai usaha rendangnya dengan modal sangat terbatas. Hanya dengan dana tabungan yang dikumpulkan dari bekerja serabutan, ia membeli bahan-bahan dasar untuk membuat 5 kilogram rendang dengan resep warisan keluarga. Bersama istrinya, Siti Aminah, Haji Saleh mulai menjajakan rendang buatannya dari rumah ke rumah tetangga dan pasar lokal di Nagari Parapari.

Proses pembuatan rendang tradisional

Proses pembuatan rendang yang otentik dengan bahan-bahan pilihan

Usaha kecil ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat sekitar. Rendang buatan Haji Saleh memiliki cita rasa yang autentik dengan rempah yang khas namun tidak mengalahkan rasa asli daging. Seperti yang diungkapkan oleh Haji Saleh dalam sebuah wawancara:

"Buat saya, rendang bukan sekadar makanan. Rendang adalah identitas, budaya, dan cinta Tanah Minangkabau yang harus dijaga setiap saat. Saya tidak akan pernah kompromi dengan bahan atau proses yang dapat merusak keaslian rasa rendang Parapari."

Pada tahun 1992, setelah tujuh tahun berkembang secara perlahan, Haji Saleh berhasil membuka kios pertama "Rendang Parapari" di pasar tradisional Padang Pariaman. Nama Parapari diambil dari nama kampung halamannya sebagai wujud cinta pada tempat kelahirannya. Kios ini menjadi titik balik dalam perjalanan bisnisnya, saat Haji Saleh mulai menyadari potensi bisnis kuliner tradisional yang bisa dikembangkan lebih luas.

Menghadapi Tantangan

Perjalanan bisnis Haji Saleh tidak selalu mulus. Pada tahun 1998, Indonesia dilanda krisis moneter yang berdampak pada semua sektor ekonomi, termasuk usaha kecil seperti Rendang Parapari. Harga bahan baku meroket sementara daya beli masyarakat menurun tajam.

Banyak usaha kuliner sejenis yang harus gulung tikar atau mengurangi kualitas produk mereka untuk tetap bertahan. Namun, Haji Saleh memilih jalan berbeda. Ia tetap mempertahankan kualitas bahan baku terbaik untuk rendangnya, meskipun harus memangkas margin keuntungan hingga hampir tidak ada.

"Sutau (sepatah) kata dari emak saya selalu saya ingat. Katanya, "Rendang ado mulo, sasudah ko kabaikkan, jangan sampai urang mangecek Rendang Parapari dulu-baik, tapi akhir-akhirnyo manjadi buruak"," kenang Haji Saleh yang berarti "Rendang ada mula-mulanya, setelah kamu baikkan, jangan sampai orang berkata Rendang Parapari dulu baik, tapi akhirnya menjadi buruk".

Keputusan untuk tidak berkompromi dengan kualitas ini terbukti tepat. Setelah krisis berlalu, Rendang Parapari justru semakin kuat karena konsumen setianya tidak pernah merasa kecewa dengan kualitas produk, meskipun dalam masa-masa sulit sekalipun.

Kebangkitan dan Ekspansi

Memasuki milenium baru, Rendang Parapari mulai menapaki masa keemasannya. Popularitas rendang sebagai kuliner khas Indonesia makin meluas, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di kancah internasional. Pada tahun 2011, CNN International menobatkan rendang sebagai makanan paling lezat di dunia, mengalahkan 50 makanan terkenal lainnya dari berbagai negara.

Bahan-bahan rempah untuk rendang

Rempah-rempah pilihan yang menjadi kunci kelezatan Rendang Parapari

Popularitas ini membuka peluang besar bagi Haji Saleh untuk mengembangkan bisnisnya. Pada tahun 2005, ia berhasil membuka cabang pertama di Kota Padang, dilanjutkan dengan ekspansi ke kota-kota besar lainnya di Sumatera Barat. Tidak puas hanya di tingkat provinsi, pada tahun 2013 Haji Saleh memutuskan untuk membuka gerai di Jakarta, memanfaatkan gelombang popularitas kuliner Minang di ibu kota.

Langkah ekspansi ini tidak semata-mata didorong oleh keinginan mencari keuntungan, melainkan juga hasrat untuk memperkenalkan rendang asli Parapari ke lebih banyak orang. Seperti yang pernah diucapkannya:

"Samo-samo kita kenalkan rendang Minangkabau ka dunia. Tapi ingat, nan mahsulnya parapari, tetap rasonyo harus manjadi jantiang (ciri khas) nan indak dapek ditiru dek urang lain."

Artinya, "Mari kita perkenalkan rendang Minangkabau ke dunia. Tapi ingat, yang produksi Parapari, rasanya harus menjadi ciri khas yang tidak bisa ditiru oleh orang lain".

Filosofi Bisnis

Kesuksesan Rendang Parapari tidak lepas dari filosofi bisnis yang dipegang teguh oleh H. M. Saleh sejak awal. Filosofi ini menjadi pembeda antara usahanya dengan

*Semua informasi di halaman ini bersumber dari data yang tersedia secara online dan disadur untuk menjadi konten edukatif dan inspiratif. Jika ada ketidaksesuaian informasi, harap dilaporkan via link kontak kami untuk dapat diadakan revisi.

Kisah Sukses H. M. Saleh Dan Rendang Parapari Di Sumatera Barat


admin
Admin
2026-06-04 03:32:06

Kisah Sukses H. Amri Dan Rendang Uni Ayu Di Sumatera Barat


admin
Admin
2026-06-04 03:32:06

Kisah Sukses Hj. Siti Aminah Dan Rendang Suryani Di Sumatera Barat


admin
Admin
2026-06-04 03:32:06

Kisah Sukses H. Burham Dan Rendang Bundo Di Sumatera Barat


admin
Admin
2026-06-04 03:32:06

Kisah Sukses H. Dt. Nan Sukses Dan RM Dt. Nan Sukses Di Sumatera Barat


admin
Admin
2026-06-04 03:32:06